Follow Us @ig.srigading

Minggu, 11 April 2021

Webinar Tarhib Ramadhan dengan Tema: “Cerdas dan Pintar Menyambut Ramadhan dengan Memilih Bahan Pangan Asal Hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH)

April 11, 2021 0 Comments

 



Yayasan Sri Gading Indonesia (SGI)

Depok, 10 April 2021.

 

Marhaban ya Ramadhan. Menyambut bulan suci Ramadhan SGI kembali menggelar webinar dengan tema yang membekali keluarga menyiapkan jasmani yang sehat dengan bahan pangan asal hewan yang ASUH.


Sebentar lagi bulan puasa tiba, dilanjutkan dengan lebaran Idul Fitri 1 Syawal. Bulan dimana kebutuhan akan bahan pangan asal hewan melonjak tajam khususnya telur dan daging. Kebutuhan bahan pangan asal hewan menjadi kebutuhan utama bagi para ibu untuk bisa memberikan hidangan spesial buat anggota keluarganya di bulan istimewa tersebut.  Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memberikan bekal kepada para ibu bagaimana memilih bahan pangan asal hewan seperti daging, telur dan susu yang segar, sehat dan berkualitas atau yang dikenal dengan bahan pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).


Hadir sebagai narasumber drh. Rr. Anik Winanningrum, beliau adalah dokter hewan alumni Fakultas Kedokteran Hewan Institute Pertanian Bogor yang membidangi Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan dan juga founder dari Lumigar Bogor Family yang peduli dengan ketahanan keluarga.


Webinar dibuka oleh Hariyah selaku MC. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan sambutan dari Novita Andriani mewakili Yayasan Srigading Indonesia. Dalam sambutannya Novita menyampaikan bahwa tema ini dipilih guna membangun kesadaran dan mengarahkan masyarakat khususnya para konsumen untuk lebih selektif memilih bahan pangan asal hewan yang sesuai dengan kriteria ASUH. Di akhir sambutannya beliau sampaikan “Semoga dengan pemahaman kita terhadap pemilihan bahan pangan asal hewan ini dapat menjaga ibadah Ramadhan kita lebih hikmat dan terhindar dari hal-hal yang tidak sehat dan haram”.


Peserta webinar hadir dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Gorontalo, Solok, Bandung dan di lingkup kota Depok. Kami ucapkan terima kasih juga atas kehadiran  Siti Chaerijah selaku kepala Perpustakaan kota Depok, membersamai acara webinar SGI ini.


Acara inti webinar dipandu oleh moderator drh. Puji Hartini, alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang saat ini aktif di bidang Industri Obat Hewan dan salah satu dari pengurus yayasan SGI.


Narasumber mengawali penyampaian materi dengan mengingatkan kita akan manfaat produk asal hewan bagi tubuh kita yakni sebagai sumber mineral, protein dan vitamin. Dimana kandungan protein dalam produk asal hewan mampu memperbaiki sistem imum, memperbaiki sel tubuh yang rusak dan mampu meningkatkan metabolisme dan menahan rasa lapar.


Materi dilanjutkan dengan pemaparan tentang bahan pencemar makanan seperti formalin, boraks yang jika ada dalam makanan akan mengakibatkan hal yang sangat merugikan. Maka mengenali keberadaan bahan pemcemar tersebut menjadi sangat penting. Tak kalah menarik adalah pemaparan tentang bagaiman ciri-ciri ayam segar dan sehat dan cara membedakan daging ayam yang disuntik aur, ayam yang diformalin dan ayam tiren (mati kemarin). Lebih detail juga disampaikan tentang daging sapi dan daging ruminansia lain serta bagaimana membedakan dengan daging celeng yang kadang menerpa issue di pasar ketika kebutuhan daging meningkat.


Telur dan susu juga menjadi bahasan dalam materi yang disampaikan oleh drh. Anik. Lebih lengkap tentang materi seputar bahan pangan asal hewan yang ASUH bisa menghubungi SGI atau follow akun istagram SGI di @ig.srigading,bisa juga mengunjungi channel youtube Srigading Indonesia tema Tarhib Ramadhan SGI.


Acara webinar ditutup dengan tanya jawab, peserta antusias mengajukan pertanyaan baik secara live maupun melalui chat. Tak lupa panitia memberikan door price kepada 5 penanya terbaik yakni peserta dari Cimanggis, Solok, Gorontalo, Cipayung dan Depok. Webinar ditutup dengan doa oleh Fajriani Ulfa Firdaus.

 

Demikian reportase webinar Tarhib Ramadhan yang dilaksanakan SGI. Semoga materi yang disampaikan narasumber bisa menjadi ilmu bagi peserta dalam memilih bahan pangan asal hewan yang ASUH. Teriring terima kasih kepada Zakat Sukses dengan visinya mewujudkan masyarakat berdaya dan peduli ikut men-support kegiatan webinar ini.


(Sri Gading Indonesia – Belajar Bekerja Berkarya – April/reporter)

Rabu, 10 Februari 2021

MILAD SRIGADING INDONESIA: Menghadirkan semangat Literasi dengan Bedah Buku “Bukan Mendengar Biasa”

Februari 10, 2021 0 Comments


          Yayasan SriGading Indonesia (SGI) telah memasuki usia ke 8 di Tahun 2021 ini. Tepatnya 19 Januari 2013 SGI berdiri. Memperingati hari lahirnya, 31 Januari 2021, SGI mempersembahkan semangat literasi dengan mengadakan acara Bedah Buku karya pengurus SGI Ferry Veronika, SE yang berjudul “Bukan Mendengar Biasa”. SGI juga memperkenalkan generasi penerus penulis cilik Nayla Falihah Rozi yang juga menulis buku “Bertahanlah Saudaraku”.



            Kedua narasumber dihadirkan oleh SGI dalam rangka memberikan semangat kepada seluruh lapisan masyarakat akan budaya literasi. Usia tak menjadi hambatan untuk membuat sebuah karya literasi. Selain karya dari pembicara dalam acara ini, SGI juga menampilkan buku-buku karya pengurus SGI yang lain, yakni Hariyah, M.Hum, Ketua Yayasan SGI ini telah menerbitkan buku antologi yang sangat banyak, demikian juga anggota yang lain seperti RA Soffie Andriani Hadi, Fajriani Ulfa Firdaus dan Puji Hartini. Sebagaimana moto SGI Belajar, Bekerja dan Berkarya, semangat ini terus ada dalam hati pengurus SGI untuk menghadirkan karya-karya nyata.


          Mengawali acara Ibu Hariyah, M.Hum selaku ketua yayasan memberikan sambutannya dengan semangat. Beliau menyampaikan “Menulislah engkau, jika tidak menulis maka engkau akan hilang dari peradaban”. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang tokoh literasi ternama Pramoedya Ananta Toer yakni: ““Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer.


            Acara dipandu oleh Moderator RA Soffie Andriani Hadi, S. Hum, dengan lantunan pantunnya beliau menyambut para peserta. Peserta acara berasal dari berbagai kalangan, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta para remaja utamanya remaja putri, dan juga teman-teman Nayla narsum penulis cilik pada acara ini. Tak lupa hadir pula dalam acara ini ayah dan bunda dari Kak Lala begitu Nayla biasa dipanggil.


            Narasumber pertama kita yakni Ferry Veronika, SE menyampaikan bedah buku karya beliau yang berjudul “Bukan Mendengar Biasa”. Buku ini sangat menginspirasi, karena buku ini lahir dari kisah nyata, inspirasi tulisan Ms. Ferry begitu belaiu biasa disapa berasal dari hal-hal yang ia temui baik pada saat menjadi guru maupun saat beliau menjadi orang tua bagi putrinya. Gambar telinga yang di zoom pada halaman judul pun mengandung arti yang dalam yakni: Wahai Bapak Ibu ini lah telinga, kita kurang menggunakannya! Demikian kurang lebih pesannya.


            Buku Bukan Mendengar Biasa memuat 4 bagian yakni: 1) Dengarkan Aku 2) Dengarkan dan Kau akan memahami 3) Jangan Jadi Pendengar yang Buruk dan 4) Mendengar Aktif. Melihat judul dari bagian-bagian buku ini saja sudah sangat menarik. Apalagi mendengar paparan dari penulisnya langsung.


            Diantara hal yang menarik yang disampaikan oleh Ms. Ferry adalah tentang remaja yang tidak suka dengan orang dewasa, mengapa? Kata mereka orang dewasa itu sok tahu, suka nge-judge dan suka nyindir. Masalahnya sudah kelar masih saja disindir-sindir. Kenapa orang dewasa tidak bertanya dulu, mengapa tidak memberi kesempatan untuk bercerita dan dengarkan, disinilah kemampuan mendengar orang dewasa sangat diperlukan agar anak remajanya tidak menyimpan masalah.


            Ms. Ferry melanjutkan paparannya bagaimana menjadi pendengar yang baik, bagaiman dampak jika tidak mendengar dengan baik, tipe-tipe mendengar yang buruk , bagaimana cara mendengar aktif serta prinsip-prinsip dalam mendengar untuk mendengarkan. Beliau menutup paparan dengan pesan “Seringkali sebuah masalah hadir diawali dari kurangnya mendengar. Dan ada banyak masalah dapat terurai justru dari mendengar”.


            Narasumber kedua dalam acara ini yakni Nayla Falihah Rozi, saat ini Nayla tercatat sebagai siswi Pondok Pesantren Daarul Ukhuwah Putri (PPDU Putri) Malang. Nayla menyampaikan karya bukunya yang berjudul “Bertahanlah Saudaraku”. Bagaimana proses Ia menulis dan mendapatkan inspirasi buku yang ia tulis serta kesulitan-kesulitan yang ia hadapi dalam menulis. Lama penulisan buku Nayla 1,5 bulan. Penulis yang menginspirasi Nayla adalah penulis ternama yang sudah banyak karyanya yakni Tere Liye. Dukungan dari ayah bunda Nayla pun menjadi trigger bagi Nayla dalam mewujudkan cita-cita literasinya.


            Acara diakhiri dengan tanya jawab. Banyak peserta yang aktif bertanya baik langsung maupun melalui chat di zoom room yang ditujukan baik kepada Ibu Ferry maupun kepada Nayla. Tak lupa untuk keberkahan acara Ibu April Tri Rahayu menutup acara dengan lantunan doa.

Demikian reportase acara Milad SGI, simak terus acara-acara SGI  berikutnya di: 


website SGI www.srigadingindonesia.com, istagram: @ig.srigading dan facebook: Srigading Sri Gading.


Sri Gading Indonesia, Belajar, Bekerja, Berkarya.

 

Reported by: drh. Puji Hartini-Pengurus SGI.


Minggu, 20 Desember 2020

WEBINAR KAJIAN FEMINISME: “Memaknai Hari Ibu, Meluruskan Paham Feminisme di Masyarakat”

Desember 20, 2020 0 Comments

 

 


Webinar Kajian Feminisme dengan tema “Memaknai Hari Ibu, Meluruskan Paham Feminisme di Masyarakat” digelar oleh Yayasan SriGading Indonesia (SGI) pada tanggal 20 Desember 2020.


Tujuan dari kajian ini dimaksudkan untuk menggali dan mengkaji sejauh mana feminisme berkembang di masyarakat sehingga perempuan tidak terjebak dalam kubangan pemahaman gerakan yang berawal dari pandangan yang salah tentang sosok perempuan atau kesetaraan perempuan dengan laki-laki.


Seiring dengan tujuan tersebut maka SGI berusaha menghadirkan narasumber kompeten yang selaras dengan tujuan yang ingin dicapai yakni: Ibu Sri Rahayu Purwitaningsih, B.Sc, beliau adalah aktifis Ketahanan Keluarga, Ibu Retno Wijayanti, M.Si, beliau Ketua Gugus Tugas Media Penggiat Keluarga-GiGa Indonesia serta Ibu Dr. Anis Byarwati, beliau aktifis penulis tentang dunia perempuan dan keluarga. Webinar dipandu oleh Moderator Ibu Nurwidiana SKM, MPH Ketua Yayasan PERAK (Perempuan, Anak dan Keluarga).


Mengawali Webinar, Ketua Yayasan SGI Ibu Hariyah, M.Hum memberikan sambutan, beliau menyampaikan webinar SGI kali ini adalah untuk memperingati moment Hari Ibu dengan menghadirkan 3 narasumber kompeten untuk membedah bagaimana feminisme, kesetaraan gender dan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Sambutan kedua disampaikan oleh Ibu Ismawati, S.Pd selaku pembina Yayasan SriGading Indonesia, beliau menyampaikan Webinar Kajian Feminisme ini adalah kegiatan keempat selama masa pandemi. Beliau melanjutkan apa dan bagaimana kiprah Yayasan SriGading Indonesia dan sejarah berdirinya yayasan ini.


Ibu April Tri Rahayu, S.Pd sebagai MC acara kajian ini kemudian mempersilahkan moderator untuk memandu acara Webinar. Mengawali acara inti kajian moderator Ibu Nurwidiana menyampaikan hasil research kecil yang dilakukan oleh SGI berupa jajak pendapat peserta webinar sebelum peserta mengikuti acara. Hasil jajak pendapat tersebut menjadi pijakan pemahaman awal peserta tentang feminisme, adalah sebagai berikut:




Berangkat dari jajak pendapat ini maka kajian ini tidak hanya membahas bagaimana peran perempuan saja tetapi lebih menekankan kepada pemahaman feminisme dan peran perempuan di dalamnya.


Narasumber pertama Kajian ini adalah Ibu Sri Rahayu Purwitaningsih, B.Sc, beliau saat ini mengampu sebagai Anggota Dewan Penasehat International Family Institute, Union of Non Government Organisation of Islamic Word, Istambul dan Sekretaris Komisi Ketahanan Keluarga, Majelis Pertimbangan Pusat. Pada kajian ini beliau menyampaikan materi tentang “Membangun Perspektif Kritis Terhadap Pemikian dan Gerakan Terkait Perempuan”.


Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa kerangka kita membangun sumber daya manusia/human development pijakannya adalah Pancasila dan UUD 1945.  Dimana prasyarat pembentukan human development ini adalah keluarga berkualitas. Yang dirumuskan dalam Pasal 28B UUD1945, UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dan UU no. 52 Tahun 2009 pasal 47 dan 48. Ini adalah landasan kita bergerak dalam membangun bangsa ini. Persoalnanya adalah di dunia ini terdapat persaingan-persaingan ideologi, dimana kadang-kadang dilakukan dengan adanya konspirasi. Diantaranya adalah menyerang perempuan dan keluarga, dengan bentuk invasi yang menyebabkan disintegrasi individu, disintegrasi keluarga sehingga keluarga tidak lagi menjadi kekuatan strategis bangsa dan bangsa kehilangan pondasinya, invasi juga menyebabkan disinegrasi bangsa/umat. Outcome dari disintegrasi tersebut adalah dehumanisasi. Dehumanisasi menyebabkan degradasi keluhuran kemanusiaan oleh karena itu mengapa kita perlu wawasan kritis terhadap berbagai pemikiran, termasuk di dalamnya adalah feminisme.


Feminisme lahir atau berasal dari konflik internal peradaban Barat antara perempuan dan laki-laki yang dikembangkan sebagai sebuah gerakan ideologi yang menjadikan perempuan sebagai kekuatan dominan dunia dan digaungkan secara global. Di peradaban Barat perempuan dianggap hanya sebagai properti suami dan tidak setara dengan laki-laki. Zaman Rennaisance dimana peradaban Barat bertemu dengan Islam posisi perempuan tidak banyak berubah, karena peradaban Barat hanya mengambil Islam pada kulit-kulitnya saja, nilai-nilai dan filosofi yang dibawa oleh Islam tidak diambil. Demikian juga pada saat hukum perdata Napoleon yang diundangkan pada tahun 1804 di seluruh Eropa posisi perempuan di Barat tetap tidak berubah. Kemudian terjadi pembingkaian teoritik yang melahirkan isme. Pembingkaian ini dilakukan oleh tokoh-tokoh feminisme.


Dinamikanya kemudian perempuan Barat menuntut hak pilih atau dikenal dengan istilah woman suffrage. Dimana kemudian pada tahun 1920 perempuan di US baru mendapat hak pilih dan di UK baru tahun 1928. Dibandingkan dengan yang terjadi di Nusantara seorang perempuan Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu menjadi pemimpin Kerajaan Islam Samudra Pase pada tahun 1400–1428, Nyi Ageng Pinatih menjadi Syahbandar (Pejabat di Pelabuhan) di Gresik pada tahun 1424 dan adapula Ratu Kalinyamat pada tahun 1549-1579 menjadi panglima perang di Jepara. Di sini dapat dilihat bahwa Masyarakat Islam Nusantara lebih beradab dan maju jika dibandingkan dengan peradaban Barat.


Di akhir paparannya beliau menyampaikan bahwa feminisme tidak sesuai dengan Pancasila dan seluruh nilainya dan feminisme tidak akan pernah bertemu dengan konsep keluarga karena keluarga berakar pada teori fungsional struktural sedangkan feminisme berakar pada teori konflik yang mengarah pada kehidupan bebas nilai dan individualistik. Demikian juga feminisme tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, tidak ada feminisme dalam Islam. Karena Islam adalah wahyu Ilahi sedang feminisme adalah konsep pemikiran manusia, titik tolak amal dalam islam adalah ibadah sedang feminisme titik tolaknya adalah eksistensi dan kebebasan pribadi dan yang terakhir penyelesaian masalah perempuan dalam Islam berbasis pada ketahanan keluarga dan nilai syariah sedang feminisme menonjolkan hak-hak perempuan serta mengabaikan institusi keluarga.


Lanjut pada paparan Narasumber kedua Ibu Retno Wijayanti, M.Si beliau adalah Ketua Gugus Tugas Media Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia. Dalam paparan beliau menyampaikan bahwa Feminisme berbeda dengan pemberdayaan perempuan. Feminisme menuntut kebebasan sedangkan pemberdayaan adalah meningkatkan potensi diri untuk berkarya, tidak menuntut adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya Ibu Retno lebih menekankan pada bahaya-bahaya pemahaman kesetaraan gender yang digaungkan oleh paham feminisme. Diantaranya adalah tidak adanya keragaman atau perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan, kesamaan posisi dan kondisi antara perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, mengkontrol, berpartisipasi dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang pembangunan serta tidak mengakui perbedaan kelamin secara biologis karena akan berdampak adanya pekerjaan-pekerjaan ber-stereotype gender, menghambat peran publik perempuan. Beliau juga menyampaikan paham kesetaraan gender yang digaungkan di banyak negara, salah satunya adalah di Swedia/Skandinavia sehingga tejadi rendahnya angka perkawinan, tingginya angka kumpul kebo, tingginya angka perpecahan keluarga, tingginya anak yang dilahirkan tanpa ikatan perkawinan, tingginya single parent dan tingginya angka perempuan bekerja.


Di Swedia setelah 30 tahun eksperimen sosial meresktrukturisasi keluarga, kesetaraan gender ini tidak tercapai. Tujuh dari 10 wanita (7/10) menginginkan lebih banyak waktu dengan anak, lebih dari setengah ibu-ibu percaya bahwa banyak perempuan yang menginginkan menjadi ibu rumah tangga jika itu memungkinkan. Tetapi mengapa kemudian sulit berubah? Karena kebijakan yang ditetapkan sudah mengarah kepada kesetaraan sehingga sulit dirubah. Disinilah menjadi pelajaran bahwa kehati-hatian dalam menentukan kebijakan karena sekali ditetapkan sulit untuk didiskusikan dengan proses demokratis.


Narasumber ketiga Ibu Dr. Anis Byarwati, beliau adalah Dosen Pasca Sarjana Universitas Yarsi sekaligus penulis tentang dunia perempuan dan keluarga. Beliau memulai dengan menyampaikan ayat Al Qur’an QS Al-Hujurat ayat 13, ayat ini menjadi dasar cara pandang kita tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan dan merupakan pondasi terkuat. Judul makalah beliau adalah “Membangun Ketahanan Keluarga Indonesia, Tanggung Jawab Siapa?” Beliau menegaskan bahwa keluarga adalah pilar peradaban. Keluarga memiliki peran yang sangat strategis dan menjadi faktor penentu dalam membangun masyarakat peradaban, keluarga adalah batu bata penyusun peradaban, keluarga adalah sel yang menyusun jaringan tubuh masyarakat. Kemudian ketahanan sebuah keluarga itu tanggung jawab siapa? Yang pertama adalah tanggung jawab keluarga itu sendiri, kedua tanggung jawab masyarakat. Masyarakat bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang baik. Dan yang ketiga adalah tanggung jawab negara dengan menegakkan Undang-undang dan aturan-aturan, mengawasi media sehingga media memberikan contoh yang baik serta negara mengkaji pendidikan yang baik di setiap jenjangnya.


Di akhir paparannya beliau menyampaikan bahwa sebagai warga negara perempuan pun punya andil di masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung perempuan berperan di masyarakat melalui bidang-bidang keahliannya seperti: bidang ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, budaya, kesehatan dan lain-lain. Peran secara tidak langsung melalui peran perempuan sebagai hamba Allah, istri dan ibu bagi anak-anaknya.


Materi yang disampaikan oleh ketiga pembicara menghasilkan pemahaman kepada hampir 800 peserta webinar baik yang ikut melalui zoom meeting maupun channel youtube. Berikut adalah hasil yang bisa dirangkum dari tanggapan dan pertanyaan peserta:


Respon peserta setelah mengikuti Kajian Feminisme

1

Sebagian peserta menyampaikan bahwa materi yang disampaikan narasumber memberikan pencerahan tentang feminisime, bahwa feminisme itu berbahaya

2

Memberikan pemahaman yang tadinya tidak tau tentang feminisme menjadi tahu

3

Memberikan pemahaman tentang ketahanan keluarga

4

Memberikan pemahaman bahwa tidak ada feminisme dalam Islam

5

Memberikan pemahaman feminisme berbeda dengan pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan potensi diri.

 

Demikian reportase Webinar Kajian Feminisme. SGI akan kembali menghadirkan webinar atau seminar selanjutnya, simak updatenya di website SGI www.srigadingindonesia.com, instagram: @ig.srigading dan facebook: Srigading Sri Gading.


Sri Gading Indonesia, Belajar, Bekerja, Berkarya.

 

Report by: drh. Puji Hartini.

Minggu, 15 November 2020

Knowledge Sharing SGI dengan tema: Bahagianya Belajar Bahasa Arab

November 15, 2020 0 Comments



Yayasan Srigading Indonesia (SGI)

Tanggal: 15 November 2020

Narasumber: Ibu Anita, S.Hum

 

Hari Ahad tanggal 15 November 2020, mengisi akhir pekan di pertengahan bulan November Yayasan Srigading Indonesia (SGI) kembali menggelar Webinar kali ini dengan Knowledge Sharing bertema Bahagianya Belajar Bahasa Arab.

 

SGI mencoba berbagi tips dari pengalaman narasumber bagaimana mempelajari bahasa Arab dengan menyenangkan dan bahagia. Sebagaimana visi SGI dalam dunia pendidikan kali ini mengangkat bahasa sebagai tema acara. Karena bahasa adalah salah satu jembatan dalam memperoleh ilmu. Mengapa kali ini SGI memilih bahasa Arab? Karena menimbang beberapa masukan dari banyak kalangan bahwa belajar bahasa Arab itu penting dan sepertinya banyak orang merasa sulit untuk menguasainya. Maka SGI berusaha mencari narasumber yang bisa memberikan wawasan bahwa belajar bahasa ini tidak lah sesulit yang kita bayangkan. Tidak menutup kemungkinan juga SGI menyelengarakan knowledge sharing untuk bahasa yang lainnya.

 

Mengawali acara, Ibu April Tri Rahayu S.Pd membacakan tilawah Al Qur’an dilanjutkan dengan sambutan Yayasan SGI yang diwakili oleh Ibu Fajriani Ulfa Firdaus, S.Pd sebagai wakil ketua SGI. Dalam sambutannya Ibu Ulfa menyampaikan knowledge sharing ini ditujukan untuk semua kalangan masyarakat baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Walaupun knowledge sharing ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat muslim saja, tetapi utamanya bagi muslim mempunyai kebutuhan yang sangat mendasar terhadap bahasa Arab ini, karena kitab yang dibaca berbahasa Arab. Oleh karena itu acara ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para peserta untuk belajar bahasa Arab. Narasumber yang dihadirkan kali ini mempunyai background pendidikan umum tetapi beliau mampu menguasai bahasa Arab dengan baik. Di akhir sambutannya beliau menyampaikan “Cintailah bahasa Arab karena bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an dan karena bahasa Arab adalah bahasa ahli surga”.

 

Acara inti knowledge sharing ini dipandu langusng oleh Ibu ketua Yayasan SGI Ibu Hariyah, M.Hum. Memandu peserta yang hadir dari berbagai daerah yakni Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang dan Depok. Dalam kesempatan ini moderator mengenalkan narasumber Ibu Anita, S.Hum. Beliau lahir di Palembang menyelesaikan Sekolah Dasar di Madrasah Diniyah, SMP dan SMA di sekolah Negeri kemudian melanjutkan studi di FIB UI mengambil jurusan Bahasa Inggris. Background studi beliau awalnya sama sekali tidak belajar bahasa Arab tetapi karena ketertarikan beliau belajar lebih jauh maka Allah memberi jalan.

 

Bagaimana Ibu Anita sangat bahagia dalam mempelajari bahasa Arab, beliau menyampaikan “karena cinta”. Bagaimana bisa cinta? “karena mengenal” beliau melanjutkan. Awal dari ketertarikan pada bahasa Arab beliau implementasikan dengan cara belajar mandiri melalui terjemahan. Kemudian semakin tertarik karena bahasa Arab ini tulisannya indah, satu-satunya bahasa yang ditulis dari kanan, struktur bahasanya unik dan pengucapan huruf-hurufnya sempurna dan jelas. Ditambah lagi dengan manfaat yang bisa kita dapat saat kita bisa menguasai bahasa arab yakni: 1) ada getaran tersendiri saat membaca Al Qur’an 2) terbantu dalam memahami Al Qur’an dan terbantu saat mencoba menghafal Al Qur’an dan hadist 3) lebih merasa menyatu dengan syiar islam 4) lebih merasa menjadi bagian dari kaum muslimin dunia 5) lebih mudah berkomunikasi dengan kaum muslimin di dunia 6) kecintaan pada bahasa arab menjadikan terasa mudah untuk terus belajar.

 

Kecintaan beliau dalam belajar bahasa Arab ini mengantarkan Ibu Anita mendapatkan kesempatan atas izin Allah untuk belajar di Langauge University of Kuwait, mengikuti beberapa lembaga learning center bahasa Arab dan mendapat beasiswa sekolah di Ma'had al-ʻulumi al-Islamiyyah wal 'arabiyah fi Indunisia atau Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA), dalam bahasa Inggris disebut Islamic and Arabic College of Indonesia.

 

Di akhir paparannya Ibu Anita menyampaikan tips tahapan dalam belajar bahasa Arab:

1.      Perbanyak mendengar

2.      Mengikuti dengan drilling atau diulang-ulang

3.      Banyak membaca

4.      Mengulang dengan menulis

5.      Pilih sumber belajar yang tepat

6.      Gunakan buku yang nudah dipahami dan ada audionya

7.      Mulailah praktek dengan bergabung pada komunitas bahasa

Saat ini Ibu Anita juga mengajar bahasa Arab kepada masyarakat. Motto beliau adalah Belajar dengan mengajar, mengajar untuk belajar.

 

Para peserta sangat antusias mengikuti acara dan banyak pertanyaan yang diajukan antara lain terkait bagaimana menjaga konsistensi dan motivasi belajar, bagaimana cara membagi waktu antara belajar dengan tugas-tugas rumah tangga atau tugas yang lain serta tahapan-tahapan dalam belajar bahasa Arab.

 

Mari kita ikuti jejak Ibu Anita dalam menggapai kecintaannya pada bahasa Arab sehingga belajar terasa mudah dan membahagiakan. SGI memberikan informasi terkait dimana kita bisa belajar bahasa Arab di akhir acara ini, yakni kelas online yang dikelola oleh Sahal (sahabat Al Qur’an) dan juga kelas online yang dikelola oleh Ibu Anita.

 

Silahkan menghubungi SGI melalui istagram @ig.srigading atau melalui website SGI www.srigadingindonesia.com.

 

(Sri Gading Indonesia – Belajar Bekerja Berkarya – PH/reporter)

Sabtu, 07 November 2020

Webinar Manajemen Stress dengan Topic: Pandemics? Moms Don’t Panic

November 07, 2020 0 Comments

 

Yayasan Srigading Indonesia (SGI)

Ahad, 08 November 2020

 

Yayasan Srigading Indonesia sebuah yayasan yang peduli dengan dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat kembali menyelenggarakan Webinar di saat pandemi, bekerjsama dengan narasumber Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJ) serta tamu istimewa dari Forum Keluarga Harmonis Kota Depok serta Ketua Forum PAUD kota Depok. Webinar ini terselenggara dalam rangka memberikan bekal kepada ibu-ibu bagaimana mengelola stress di masa pandemi. Dimana rasa capek, mudah emosi, sering marah-marah kadang menghinggapi para orang tua yang mendampingi anak-anak saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan juga bekerja di rumah (WFH).


Hadir sebagai narasumber dari IPKJ Ibu. Ns. Sri Nyumirah, M.Kep., Sp.Kep.J beliau adalah Dosen Keperawatan Jiwa dan Pengurus Pusat IPKJ. Alumni dari Stikes Ngudi Waluyo Ungaran dan menyelesaikan Megister Keperawatan di  Universitas Indonesia. Serta tamu istimewa Bunda Elly Farida mewakili Forum Keluarga Harmonis dan Forum PAUD kota Depok.


Webinar dibuka oleh Ibu Siti Makmuria sebagai MC, dilanjutkan sambutan dari Yayasan Srigading Indonesia oleh Ibu Fajriani Ulfa Firdaus, S.Pd sebagai Wakil Ketua SGI, mewakili Ibu Ketua Yayasan Srigading Indonesia Ibu Hariyah, M.Hum. Dalam sambutannya Ibu Ulfa menyampaikan tujuan SGI menyelenggarakan webinar ini adalah untuk memberi bekal kepada masyarakat tentang manajemen stress utamanya di saat pandemi. Webinar ini awalnya ditujukan kepada ibu-ibu tetapi setelah disampaikan ke publik bapak-bapak pun ingin bergabung. Dalam akhir sambutannya Ibu Ulfa memberi pesan “Disamping kesiapan ruhiyah dalam menghadapi pandemi maka kita siapkan ilmu, sehingga dengan ilmu itu kita bisa beradaptasi menghadapi situasi dan kondisi yang ada saat ini. Selanjutnya Ibu Ulfa memandu langsung tamu istimewa Webinar yakni Bunda Elly Farida.


Bunda Elly Farida memberikan sharing kepada peserta webinar pada saat dimana beliau mengalami sendiri Covid-19. Pada saat mengetahui beliau positif Covid-19 “rasanya seperti petir di saing hari” kata beliau. Tetapi Bunda Elly mencoba berdamai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Beliau sampaikan sabar adalah hal pertama yang harus dilakukan kemudian ikhlas, sebagaimana ayat terkahir QS. Ali Imron. Ketahanan mental harus terbangun dengan baik. “Yang cerdas dihadapan Allah kata Rasulullah adalah yang mampu mengelola apa yang dihadapi hari-harinya” demikian Bunda Elly menambahkan.


Disampaikan pula oleh Bunda Elly bahwa Covid -19 ini juga menyerang ke anak-anak. Kondisi di masyarakat masih ada yang tidak percaya adanya Covid-19 ini, sehingga perlu memberikan wawasan kepada mereka. Dilihat dari dampaknya, pandemi ini sangat nyata dampaknya pada masyarakat menengah kebawah, secara ekonomi mereka sangat terdampak. Secara personal penderita Covid mereka merasa terasing, ini bedanya dengan penyakit lainnya. Pemerintah kota Depok telah melakukan upaya-upaya maksimal dan hal-hal terbaik dalam menangani pandemi ini.


Di akhir sharing-nya Bunda Elly menyampaikan dua point pesan cinta yakni 1) Fitrah yang lurus di hadapan Allah, dengan iman kita menjadi positif thinking kepada Allah. Marah dengan kondsi yang dihadapi bukanlah solusi justru malah menjadi kontraproduktif, 2) Tilawah Qur’an menjadi penenang kita menghadapi situasi. Seperti dalam sebuah lagu “Apapun yang terjadi, Allah ada untukku” kata beliau. Ditekankan kembali oleh beliau bahwa Covid-19 itu ada dan dahsyat. Kita harus bisa menghadpinya dengan ketahanan mental dan positif thinking. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).


Acara dilanjutkan dengan paparan materi dari Ibu. Ns. Sri Nyumirah, M.Kep., Sp.Kep.J, perihal manajemen stress dipandu oleh moderator Ibu. Yulismar Zen, S. Si. Diawal paparannya beliau menyampaikan apa yang dilakukan Bunda Elly Farida dalam menyikapi saat beliau positif Covid adalah teknik afirmasi yakni berpikir positif terhadap sesuatu yang terjadi. Ini sangat baik sekali. Kemudian beliau menyampaikan bagaimana manjamen stress dilakukan.

 






 


Pandemi menjadi stressor/penyebab stress dan merupakan awal terjadinya masalah kesehatan jiwa dan psikososial saat ini. Bagaimana menghadapinya ada orang yang adaptif yakni merespon secara positif dan ada yang maladaptif atau merespon negatif. Proses terjadinya stress dan kecemasan ini adalah stressor yang didengar, dilihat dan dialami akan menyebabkan otak mengeluarkan hormon kortisol, sehingga mempengaruhi organ tubuh dan reaksi fisiologis (psikosomatis) seperti nadi cepat, tensi naik, berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernakan, pusing, sakit kepala dan sulit tidur.


Apa yang harus dilakukan ketika stress datang, Ibu Sri Nyumirah menjelaskan beberapa point:

1.      Teknik Afirmasi (Think positif)

2.      Relaksasi nafas dalam

3.      Keterpusatan (Centering) yakni teknik menyatukan dan mengelola seluruh energi kita

4.      Getting a good nights sleep, atau tidur berkualitas

5.      Imegery, yakni teknik visualisasi untuk membentuk tubuh memasuki fase relaksasi

6.      Teknik relaksasi progresif, gerakan yang meregangkan dan merilekan tubuh.

 

Hal lainnya yang harus dilakukan adalah mempertahankan imunitas dan psikososial adalah dengan

1.      Imunitas fisik: 1) makanan bergzi, 2) minum teratur dan cukup 3) olah raga minimal 30 menit per hari 4) berjemur 5) Istirahat dan tidur cukup. Selain itu jangan lupa menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan.

2.      Imunitas jiwa: 1) fisik rileks 2) emosi selalu positif 3) pikiran positif 4) perilaku positif 5) Relasi positif 6) spiritual positif


Demikan materi yang disampaikan Ibu Sri Nyumirah, beliau mengakhiri dengan flyer Kemenkes dengan tajuk Hati yang gembira adalah obat.


Acara webinar ditutup dengan tanya jawab, peserta antusias mengajukan pertanyaan baik secara live maupun melalui chat. Tak lupa panitia bahkan MC secara langsung memberikan door price kepada peserta. Webinar ditutup dengan doa oleh Ibu Siti Solihah.


Demikian reportase webinar manajemen stress yang dilaksanakan SGI. Semoga materi yang disampaikan narasumber bisa menjadi ilmu bagi peserta dalam menghadapi masa pandemi ini.

(Sri Gading Indonesia – Belajar Bekerja Berkarya – PH/reporter)

Kamis, 24 September 2020

Optimalisasi Google Classroom untuk Pembelajaran Jarak Jauh

September 24, 2020 2 Comments


Depok (23 September 2020).
Google Classroom menjadi kebutuhan para guru di era pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran dari rumah (BDR). Penguasaan terhadap Google Classroom ini menjadi penting karena dengan media ini sangat membantu para guru dalam menyampaikan pembelajaran kepada siswa di masa pandemi ini.

Yayasan Sri Gading Indonesia (SGI) sebuah yayasan yang peduli dengan dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat menyelenggarakan Webinar Series terkait dengan Google Classroom. Harapan SGI dengan webinar ini dapat membantu para guru memahami media pembelajaran ini dengan baik.

Acara Webinar menghadirkan Bpk. Andy Novi Suhanto, S Kom (Certified Google Educator) sebagai narasumber. Beliau dari PT. Duta Digital Informatika (DUGI) dimana DUGI merupakan partner Google, Alibaba, Acer dan Intel di Indonesia. Meningkatkan dan menyelaraskan serta memberikan solusi pendidikan dengan google education menjadi visi dari DUGI. Visi yang sama dengan SGI inilah menjadikan SGI berkolaborasi dengan Bapak Andy.

Webinar dibuka oleh MC Ibu Ferry Veronika, SE tepat pukul 12.45 WIB.  Disambung dengan sambutan dari Ketua Yayasan Sri Gading Indonesia Ibu Hariyah, M. Hum. Dalam sambutannya Ibu Hariyah menyampaikan sesuai Misi dan Visi SGI maka Yayasan SGI turut hadir memberikan knowledge sharing dan konsultasi pendidikan serta training-training sebagaimana kegiatan yang diselenggarakan hari ini. Menutup sambutannya Ibu Hariyah menyampaikan “Kami berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kompetensi dan kualitas guru di masa BDR ini. Selamat datang dan selamat mengikuti kegiatan Webinar ini”.

Webinar ini dihadiri 157 peserta dari berbagai kota. Ibu Fery Veronika di awal pembukaan menyampaikan bahwa target peserta webinar ini adalah 100 orang, ternyata sambutan peserta luar biasa sehingga kesempatan dibuka kembali untuk peserta yang mau hadir.

Peserta webinar berasal sekolah SD, SMP, SMA, SMK , MTS baik negri maupun swasta  dari berbagai kota yakni Jakarta, Depok, Bogor, Cimahi, Bandung Barat, Sdioarjo (Jawa Timur) bahkan ada dari Solok (Sumatera Barat). Materi ini diminati oleh pendidik dari berbagai usia, peserta diatas 50 tahun sekitar 14,9%, antara 42-50 tahun 29,7%, 30-40 tahun sebanyak 44,6% dan usia dibawah 30 tahun sebanyak 10%. Dari form yang diisi peserta 50% sudah memahami konsep pembelajaran education 4.0 dan 50% nya belum.

Ibu Nani Sutarni, SPd. sebagai moderator memandu penyampaian materi webinar ini dengan sangat baik. Sepanjang Bpk Andy menyampaikan materi peserta mengikuti acara cukup baik dan disiplin. Banyak pertanyaan diajukan peserta melalui chat dan juga pertanyaan-pertanyaan yang dipandu oleh moderator. Beberapa contoh pertanyaan adalah sebagai berikut:

1. Apa perbedaan yang significant antara Classroom bias/free (akun pribadi) dengan G-Suite For Education (Berbayar)? Bagaimana cara sekolah mendaftar memiliki G-Suite? Apakah ada harga spesial untuk pendidikan?

2.  Apa yg menyebabkan saya sebagai guru di Classroom tidak bisa mengirim tugas? Atau murid tdk bisa mengumpulkan tugas di classroom? Mohon jawabannya

3 Apa yang menyebabkan murid saya terkadang ada yang tidak bisa membuka link google form?

Ibu Nani dengan apik menyampaikan pertanyaan kepada Bapak Andy untuk mendapatkan jawaban dan saran-saran dari narasumber.

Di akhir materi diadakan quizizz yang dipandu oleh Ibu Eva dengan menggunakan website quizizz.com, peserta secara online mengikuti quizizz dengan baik. Quizizz dimenangkan oleh Ibu Rosdiana. Selamat buat Ibu Rosdiana (hadiah sudah terkirim).

Kegiatan ini ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Bapak Muhammad Ridwan dari SMK 57 Jakarta.

Demikian peliputan acara Webinar: “Optimalisasi Google Classroom Untuk Pembelajaran Jarak Jauh” harapannya materi ini bisa bermanfaat buat semua peserta yang hadir dan SGI bisa melanjutkan series-series Webinar berikutnya.

 

(drh. Puji Hartini)